Wednesday, 26 December 2018

MANDRA

Mandra   (lahir di Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur, 2 Mei 1964; umur 54 tahun) adalah pemeran, pelawak, dan pemain lenong Betawi.

Mandra yang menikah dengan Mila dikaruniai seorang anak perempuan, Tia Septiana (lahir September 2000). Mandra juga mempunyai seorang anak angkat, Sherly Oktaviana. Sebelum menikah dengan Mila, Mandra pernah menikah dengan Rina dan pernah menolak mengakui anak yang dilahirkan isteri keduanya itu.
Mandra mengawali kariernya lewat lawakannya di lenong Betawi. Lulusan SMA Cijantung ini sejak remaja bergabung dengan lenong Setia Warga pimpinan Haji Bokir. Namannya melejit setelah Ia berperan dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Sukses sebagai pemain, kakak tertua dari komedian Omaswati dan Mastur ini pun mendirikan sebuah rumah produksi Viandra Production. Melalui rumah produksinya, Mandra membuat sinetron Babe yang dibintanginya bersama Agus Kuncoro, Jojon, dan Yati Surachman. Disusul sinetron Mandragate, Tarsan Kota, Jadi Pocong, Zoro Kemayoran, Rojali dan Yuleha, Unjuk Gigi, dan Gedong Kosong, serta Perjaka yang diproduksi bersama Didi Petet dan Ade Irawan.
prestasi yang beliau dapatkan
  • Nominasi Piala Vidia 1997, Aktor Pembantu Drama (Si Doel Anak Sekolahan III - dikalahkan Sandy Nayoan)
  • Nominasi Piala Vidia 2011, Aktor Pembantu (Si Doel Anak Pinggiran - dikalahkan Gunawan Sudrajat)


Sumber : Wikipedia

H. Mandra Naih
Nama lahirMandra Naih
Nama lainMandra
Lahir2 Mei 1964 (umur 54)
Bendera Indonesia CibuburCiracasJakarta TimurIndonesia
PekerjaanAktorpelawak, pemain lenong Betawi
Tahun aktif1977 - sekarang
HubunganOmas (adik)
Mastur (adik)
PasanganMila Juwita Sari
AnakTia Septiana
Sherly Oktaviana

Wednesday, 19 December 2018

Benyamin Sueb


Benyamin Sueb.png(lahir di Batavia, 5 Maret 1939 – meninggal di Jakarta, 5 September 1995 pada umur 56 tahun) adalah pemeranpelawaksutradara dan penyanyi Indonesia. Benyamin menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film.
Sejak kecil, Benyamin sudah merasakan getirnya kehidupan. Bungsu delapan bersaudara pasangan Suaeb-Aisyah kehilangan bapaknya sejak umur dua tahun. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu, si kocak Ben sejak umur tiga tahun diijinkan ngamen keliling kampung dan hasilnya buat biaya sekolah kakak-kakaknya. Benyamin sering mengamen ke tetangga menyanyikan lagu Sunda Ujang-Ujang Nur sambil bergoyang badan. Orang yang melihat aksinya menjadi tertawa lalu memberikannya recehan 5 sen dan sepotong kue sebagai imbalan.
Penampilan Ben kecil memang sudah beda, sifatnya yang jahil namun humoris membuat Ben disenangi teman-temannya. Seniman yang lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939 ini sudah terlihat bakatnya sejak anak-anak. Bakat seninya tak lepas dari pengaruh sang kakek, dua engkong Benyamin yaitu Saiti, peniup klarinet dan Haji Ung pemain Dulmuluk, sebuah teater rakyat - menurunkan darah seni itu dan Haji Ung alias Jiung yang juga pemain teater rakyat pada zaman kolonial Belanda.

Sewaktu kecil, bersama 7 kakak-kakaknya, Benyamin sempat membuat Orkes Kaleng.
Benyamin bersama saudara-saudaranya membuat alat-alat musik dari barang bekas. Rebab dari kotak obat, stem basnya dari kaleng drum minyak besi, keroncongnya dari kaleng biskuit. Dengan alat musik itu mereka sering membawakan lagu-lagu Belanda tempo dulu.
Kelompok musik kaleng rombeng yang dibentuk Benyamin saat berusia 6 tahun menjadi cikal bakal kiprah Benyamin di dunia seni. Dari tujuh saudara kandungnya tercatat hanya Benyamin yang memiliki nama besar sebagai seniman Betawi. Benyamin memulai Sekolah Dasar (dulu disebut Sekolah Rakyat) Bendungan Jago sejak umur 7 tahun. Sifatnya yang periang, pemberani, kocak, pintar dan disiplin, ditambah suaranya yang bagus dan banyak teman, menjadikan Ben sering ditraktir teman-teman sekolahnya.
SD kelas 5-6 pindah ke SD Santo Yusuf Bandung. SMP di Jakarta lagi, masuk Taman Madya Cikini. Satu sekolahan dengan pelawak Ateng. Di sekolah Taman Madya, ia tergolong nakal. Pernah melabrak gurunya ketika akan kenaikan kelas, ia mengancam, "Kalau gue kagak naik lantaran aljabar, awas!" Lulus SMP ia melanjutkan SMA di Taman Siswa Kemayoran. Sempat setahun kuliah di Akademi Bank Jakarta, tetapi tidak tamat.
Baru setelah menikah dengan Nonnie pada 1959 (mereka bercerai 7 Juli 1979, tetapi rujuk kembali pada tahun itu juga), Benyamin kembali menekuni musik. Bersama teman-teman sekampung di Kemayoran, mereka membentuk Melodyan Boy. Benyamin nyanyi sambil memainkan bongo. Bersama bandnya ini pula, dua lagu Benyamin terkenang sampai sekarang, Si Jampang dan Nonton Bioskop.
H.
Benyamin Sueb
Lahir

5 Maret 1939
 BataviaHindia Belanda
Meninggal

5 September 1995 (umur 56)
 JakartaIndonesia
Kebangsaan

Bendera Indonesia Indonesia
Pendidikan
  • Sekolah Rakyat Bendungan Jago Jakarta (1946-1951), SD Santo Yosef Bandung (1951-1952)
  • SMPN Taman Madya Cikini, Jakarta (1955)
  • SMA Taman Siswa, Jakarta (1958)
  • Akademi Bank Jakarta (Tidak tamat) ; Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan & Ketatalaksanaan (1960)
  • Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960)
  • Kursus Lembaga Administrasi Negara (1964)
Pekerjaan






  • Kondektur PPD (1959)
  • Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960)
  • Bagian Musik Kodam V Jaya (1957-1968)
  • Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969)
  • Produser dan Sutradara PT Jiung -Film (1974-1979)
  • Tahun aktif

    1950 - 1995
    Dikenal atas

    Penyanyiaktor
    Suami/istri

    • Hajjah Nonnie 1959 - 7 Juli 1979[note 1]
    • Alfiah
    Anak

    Dari Nonnie
    • Beib Habbani (alm)
    • Bob Benito
    • Biem Triani
    • Beno Rahmat
    • Beni Pandawa
    Dari Alfiah
    • Bayi Nurhayati
    • Billy Sabila
    • Bianca Belladina
    • Belinda Sahadati Amri
    Orang tua

    Suaeb (ayah)
    Aisyah (ibu)
    Kerabat

    Rohani (kakak pertama), Moh Noer (kedua), Otto Suprapto (ketiga), Siti Rohaya (keempat), Moenadji (kelima), Ruslan (keenam), dan
    Saidi (ketujuh).
    Penghargaan

    • Piala Citra 1973 dalam film Intan Berduri (Turino Djunaidy, 1972) bersama Rima Melati
    • Piala Citra 1975 dalam film Si Doel Anak Modern (Sjuman Djaya, 1975)
    • Jalan Landas Pacu Kemayoran diubah menjadi namanya. Hal ini menyebabkan nama Jalan atas namanya lebih panjang daripada nama Jalan Engkongnya Haji Ung.
    • Penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 8 November 2011
    Sumber : Wikipedia

    BOKIR

    Hasil gambar untuk bokir

    H. Muhammad Bokir Bin Dji'un 
    (lahir di Cisalak Pasar, BogorJawa Barat yang sekarang masuk ke dalam wilayah Cimanggis, Depok25 Desember 1925 – meninggal di Jakarta18 Oktober 2002 pada umur 76 tahun)
    adalah seorang seniman topeng Betawi. Dia terlahir dari pasangan Mak Kinang & Dji'un, serta bersaudara dengan Dalih bin Dji'un dan Ni'iih bin Dji'un.

    Bokir
    Nama lahirH. Muhammad Bokir Bin Dji'Un
    Lahir25 Desember 1925
     Cisalak, Bogor, JawaBendera IndonesiaBarat, Hindia Belanda
    Meninggal18 Oktober 2002 (umur 76)
    Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
    PekerjaanAktor, Pelawak
    Tahun aktif1960 - 2002
    PasanganNamah (m. ?-2002)
    AnakLima
    Orang tuaDji'Un (Ayah)
    Mak Kinang (Ibu)
    Sumber : Wikipedia